28 Agustus, 2007

Banjir dan Tata Ruang 11


----- Pesan Diteruskan ----
Dari: Rully Syumanda

Kepada: tata_ruang_riau@yahoogroups.com
Terkirim: Selasa, 12 Juni, 2007 10:44:50
Topik: RE: [tata_ruang_riau] Banjir dan Tata Ruang

Raflis… coba deh download buku cifor, Banjir: berkembang dalam Fakta atau tenggelam dalam mitos… Bisa dibilang inilah saltu-satunya penelitian ilmiah tentang siklus dan kejadian banjir itu.

Semoga membantu.

Salut, rully syumanda


Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers


Read More......

Banjir dan Tata Ruang 11


Dari: dede kunaifi
Kepada: tata_ruang_riau@yahoogroups.com
Terkirim: Selasa, 12 Juni, 2007 10:11:38
Topik: Re: [tata_ruang_riau] New poll for tata_ruang_riau
Hi Pak Nur,
Terimakasih, anda sudah mengutarakan maksud nya.
Salam


Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers

Read More......

Banjir dan Tata Ruang 10


Dari: raflis tata ruang <tata_ruang_riau@yahoo.co.id>
Kepada: tata_ruang_riau@yahoogroups.com
Terkirim: Selasa, 12 Juni, 2007 8:47:14
Topik: [tata_ruang_riau] Banjir dan Tata Ruang

Terima kasih atas koreksi yang diberikan oleh pak nur islami tentang pooling banjir dan tata ruang.

Memang sangat benar sekali bahwa bencana banjir itu banyak faktor penyebabnya. Kalau menurut saya definisi banjir secara adalah adalah Ketidak mampuan saluran air (baik itu alami maupun buatan) mengalirkan air sehingga saluran tersebut melimpah dan kemudian membentuk genangan. Barangkali juga ada yang tidak sepakat dengan saya atau mempunyai definisi yang berbeda.

Penyebab dari banjir itu bisa bermacam-macam: Banjir bisa disebabkan oleh curah hujan yang tinggi sehigga saluran air/ sungai yang ada tidak mampu menampung volume air sehingga membentuk genangan. Banjir juga bisa disebabkan oleh tersumbatnya saluran air atau pendangkalan sungai sehingga curah hujan yang kecilpun bisa menyebabkan banjir.

Menurut para ahli lingkungan penyebab banjir adalah terjadinya alih fungsi lahan sehingga mengganggu sistim hidrologi. Menurut politisi dan para penguasa negri ini penyebab banjir adalah musibah dari tuhan karena curah hujan yang tinggi. Menurut masyarakat banjir sudah terjadi sejak berpuluh tahun yang lalu, tetapi siklusnya paling sekali 5 tahun, kalau sekarang sudah terjadi setiap tahun.

Sampai saat ini saya belum melihat hasil riset yang bisa dipertanggungjawabk an secara ilmiah tentang penyebab terjadinya banjir. Yang ada hanyalah kita ribut mempersoalkan bantuan yang terjadi pada saat bencana itu muncul. Sedangkan upaya preventif untuk mengantisipasi timbulnya bencana belum terlihat.

Agar kita sama-sama memahami persoalan banjir dan tata ruang saya sudah masukkan beberapa peta tentang daerah rawan banjir di riau. Rekan-rekan bisa mengambilnya di meno foto dalam group tata ruang atau klik link ini.

http://asia. ph.groups. yahoo.com/ group/tata_ ruang_riau/ photos



Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers

Read More......

Banjir dan Tata Ruang 9


Dari: yayasan elang
Kepada: tata_ruang_riau@yahoogroups.com
Terkirim: Senin, 11 Juni, 2007 10:19:52
Topik: Re: [tata_ruang_riau] New poll for tata_ruang_riau


Numpang nimbrung juga
saya sangat tertarik dengan pernyataan bu Nur yang sangat kritis dalam melihat sesuatu, dan ajang polling ini menjadi arah kearah polemik tentang ke tata ruangan Riau.
Bukan bermaksud memanasi makna dari pertanyaan tapi adalah urgensi dari nilai polling yang ingin diambil, mudah2an bagi moderator ini menjadi suatu poin refleksi dalam membuat polling atau pertanyaan (soory fles), karena semua orang disini paham dan mengikuti proses tata ruang Riau *aku pikir mailist ini hanya untuk anggota Jikalahari, he..he.. salah ya!!!) buktinya Bu Nur ikut memperkaya mailist ini. Salam Kenal Bu.
ok kembali ke poin tadi Apakah Tata Ruang riau merupakan penyebab banjir setiap tahun nya di Riau, kalau kita kaji lebih dalam yang namanya perencanaan yang dibuat (tata ruang) yang akan di Perda kan memang akan berpotensi akan menyebabkan banjir setiap tahun nya terjadi di Riau karena banyak dalam tata ruang tersebut mengkonversi hutan untuk pembangunan. memang banjir setiap tahun terjadi kalau melihat sejarahnya banjir sudah ada di Riau sejak dulu kala, tetapi kalau kita melihat grafik banjir secara kualitas dan kuantitas banjir selalu dan bahkan cenderung meningkat, karena alam gak kuat menahan air yang jatuh di langit karena kondisinya sudah rusak. dan juga dengan kondisi sekarang ini dimana jumlah hutan di Riau selalu drastis berkurang setiap tahun dan didalam Tata ruang yang akan di sahkan kita lihat isinya cenderung akan semakin membuat kehilangan hutan yang lebih parah dan celakanya kawasan hulu dan kawasan lindung yang nota bene sebagai water catchment area banyak yang akan dikonversi menjadi perkebunan dan HTI secara umum kondisi itu tentu akan berpotensi penyebab banjir. karena perencanaan yang dibuat cenderung lebih bersifat untuk pengembangan ekonomi (suatu invesatsi) tanpa memperhatikan kepentingan lingkungan.
nah maksud dari pertanyaan tadi aku pikir sudah jelas kalau perencanaan yang dibuat sudah salah tentu akan berpotensi penyebab banjir. karena disamping curah hujan yang tinggi ditampah dengan kondisi lingkungan yang rusak dan tidak kuat menahan beban (seperti Riau sudah kebanyakan kebun sawit, HTI (akasia) dan lahan kritis. ditambah perencanaan tata ruang kota lebih bersifat Ruko (biar dikata lebih maju...he..he. .) tetapi tidak pernah menyisakan ruang hijau/ terbuka dan sistem drainase yang buruk (buktinya hampir 100% seluruh ibukota kabupaten/propinsi pasti banjir!!!! (yang secara kualitas meningkat, baik frekuensi, lama waktu dan jumlahnya)!! ! pertanyaan yang tinggal kenapa???? ya itu tadi perencanaan dan implementasi Tata ruang kita tidak pro pada lingkungan.

salam

R.Kurniwan

Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers

Read More......

Banjir dan Tata Ruang 8


Dari: Nur Islami
Kepada: tata_ruang_riau@yahoogroups.com
Terkirim: Senin, 11 Juni, 2007 4:38:11
Topik: RE: [tata_ruang_riau] New poll for tata_ruang_riau
Dear Taryudi, saya tak melihat Nama Pak Rafless di email ini......... ......
Oh ya... permintaan saya untuk dapat di FIKIR kan:
Baca baik baik kembali "polling " dibawah, kemudian coba fikirkan dan fahami. dalam kalimat pertanyaannya, seolah olah Sistem tata ruang selama ini sudah salah, OK anggab saja salah, dan mungkin ada team lain yang menghasilkan tata ruang nantinya yang lebih sempurna. Namun tidakkah terfikirkan bahwa Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya banjir. saya yakin semua anda yang didalam team ini memahami faktor faktor tersebut antara lain letak geografis yang memungkinkan tingginya curah hujan, topografi suatu wilayah, kepadatan penduduk, dsb. Contoh: Jakarta, siapapun yang membuat Tata Ruang Jakarta, dan bagaimanapun bersihnya sungai dijakarta, itu hanya sedikit sumbangan untuk mengurangi kemungkinan jakarta akan banjir, karena Jakarta terletak pada ketinggian yang hampir sama dengan laut, dan jakarta merupakan hilir dari area/ wilayah yang sangat luas dibagian selatan jakarta seperti Bogor dan sekitarnya (maaf saya tidak hapal nama2 daerah disekitar sana). contoh lain, Amsterdam,.. ..saya yakin anda tahu teknologi disana seperti apa.
Air tiris - rumbio sampai ke danau bingkuang, terus ke teratak buluh dan sebagainya sampai ke pelalawan, saya jamin siapa pun yang membuat perencanaan tata ruang nya hanya akan memberikan sedikit (kurang dari 1%) pengurangan kemungkinan banjir, karena wilayah sumber datangnya air, yaitu dari payakumbuh sangat lah luas dibandingkan dengan kemungkian luas aliran sungai. ini terbukti dari zaman dahulu 1900 - sekarang banjir tetap ada, walaupun zaman 1900 hutan masih bagus di daerah hulu. Makanya saya minta soal polling anda dispesipikkan lagi. Daerah mana??? orang akan berfikir untuk menjawabnya. nah, Taryudi, ini bukan sekedar setuju atau tak setuju-nya. Saya sangat setuju untuk sesuatu yang lebih baik. tapi jangan dijadikan Kambing hitam Tata ruang sebelum ini. dan jangan tata ruang lama dijadikan sebagai sesuatu yang salah (tersirat dari kalimat pertanyaan polling) hanya untuk menggol kan rencana tata ruang berikutnya oleh team mana saja. ingat, saya tidak ada kepentingan dalam menggolkan tata ruang ini dan saya juga tidak tahu siapa yang buat tata ruang riau sebelum ini. yang saya (juga dan yang lain nya) inginkan hanyalah yang lebih baik.
OK.....


Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers

Read More......

Banjir dan Tata Ruang 7


Dari: Nur Islami
Kepada: tata_ruang_riau@yahoogroups.com
Terkirim: Senin, 11 Juni, 2007 12:56:34
Topik: Re: [tata_ruang_riau] New poll for tata_ruang_riau
Hi Dede, Jika anda terima pertanyaan, saya rasa anda akan memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud oleh pertanyaan tersebut (misal: seperti anda menjawab ujian EBTANAS) dan baru menjawabnya, jika pertanyaannya kurang mengena, saya rasa anda akan bingung untuk menjawabnya. Itu yang terjadi pada saya, karena pertanyaan anda "NGAMBANG". silahkan baca baik baik pertanyaan anda (maaf jika bukan anda yang buat pertanyaannya) dan baca baik baik email saya sebelumnya.
Tapi sekarang terusterang saya bingung lagi: Diluar dari pertanyaan (your "polling") anda, muncul pertanyaan baru, apa maksud anda mengatakan "Mengapa anda tidak mengatakan langsung maksud anda dan jawab pertanyaan itu" ?? jelas kan, dari sini, saya yang seharusnya mengatakan kenapa anda tidak langsung saja mengatakan apa maksud anda??? sebenarnya saya tidak suka dengan persoalan yang dibuat berbelit belit.
Begini saja, saya bantu anda buat pertanyaan:
Apakah anda sepakat bencana banjir yang terjadi di daerah "X" setiap tahun merupakan akibat dari Tata Ruang Yang Tidak Terencana : a) setuju, b) tidak setuju, c) ragu, d) tidak tahu.
Jadi sipembaca akan bisa memikirkan jawaban yang benar berdasarkan logika dan ilmu yang dia miliki. Terus terang saya salut semula melihat masih ada orang yang memikirkan lingkungan Negeri Saya "Riau". tapi terus terang lagi saya jadi bertanya dalam diri saya, kenapa anda tidak bisa menerima kenyataan bahwa anda "silaf " dalam membuat soal?? dan kenapa anda malah menanyakan apa maksud saya?? dan sekarang saya ragu dengan niat anda. sekali lagi, maksud saya pada email pertama adalah Agar anda Buat Soal terlebih dahulu memikirkan pertanyaannya apakah sudah lengkap atau tidak, itu saja maksud saya.
Terimakasih.


Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers

Read More......

Banjir dan Tata Ruang 6

Dari: dede kunaifi

Kepada: tata_ruang_riau@yahoogroups.com
Terkirim: Senin, 11 Juni, 2007 12:32:39
Topik: Re: [tata_ruang_riau] New poll for tata_ruang_riau

Mengapa anda tidak mengatakan langsung maksud anda dan jawab pertanyaan itu.

trims



Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers

Read More......

Banjir dan Tata Ruang 5


----- Pesan Diteruskan ----
Dari: Taryudi Caklid
Kepada: tata_ruang_riau@yahoogroups.com
Terkirim: Senin, 11 Juni, 2007 11:00:14
Topik: RE: [tata_ruang_riau] New poll for tata_ruang_riau
yah aku juga setuju pak Rafless...
mari kritisi Tata Ruang untuk keberlanjutan kehidupan yang lebih Baik..
Kalo bicara sistem sih susah...
Lebih baik buat masyarakat ngerti aja dampak dari kesemerawutan ini biar mereka mengambil sikap juga..
Salam
TC

Ingin tau lebih jauh tentang Rencana Tata Ruang Riau? Silahkan bergabung dengan group tata ruang riau
(mailing list ini terbuka untuk umum, silahkan anda berikan masukan atau komentar dan undang rekan-rekan anda untuk bergabung )
"Bersama Kita Wujudkan Tata Ruang Riau yang Berpihak Pada Rakyat"
jika anda tertarik silahkan klik link berikut
tata_ruang_riau-subscribe@yahoogroups.com atau http://asia.groups.yahoo.com/group/tata_ruang_riau/



Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers

Read More......

Banjir dan Tata Ruang 4


Dari: Dudi Rufendi

Kepada: tata_ruang_riau@yahoogroups.com
Terkirim: Senin, 11 Juni, 2007 10:04:17
Topik: RE: [tata_ruang_riau] New poll for tata_ruang_riau

Dear all,

Tata ruangnya mungkin direncanakan dengan baik, tapi implementasi tata ruang tsb yg tdk konsisten dan tdk ada law enforcement thd penyimpangan tsb. Saya setuju banjir salah satunya disebabkan oleh ketidakonsistenan implementasi tata ruang.

Salam,

Dudi




Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers

Read More......

Banjir dan Tata Ruang 3


Dari: Nur Islami
Kepada: tata_ruang_riau@yahoogroups.com
Terkirim: Senin, 11 Juni, 2007 6:39:10

Topik: Re: [tata_ruang_riau] New poll for tata_ruang_riau

Pertanyaan anda tidak lengkap. Pertanyaan anda harus lebih spesipik lagi, seperti daerah mana yang anda maksud??? jenis banjirnya apa??? dsbnya. karena banjir di daerah A, B, C dan sebagainya jelas tidak akan pernah sama penyebabnya, jadi jangan asal memakai kata "Tata Ruang Yang Tidak Terencana" saja.
Trimakasih.


Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers

Read More......

Banjir dan Tata Ruang 2


Dari: safinatuddin
Kepada: tata_ruang_riau@yahoogroups.com
Terkirim: Senin, 11 Juni, 2007 12:26:21
Topik: Re: [tata_ruang_riau] New poll for tata_ruang_riau

Setuju, soalnya sekarang pembangunan di Pekanbaru terkesan cuma ruko mulu.

Kotak - kotak kayak ruko
Pekanbaru kuuunoooo!!!


2007/6/10, riko kurniawan

setuju


Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers

Read More......

Banjir dan Tata Ruang 1


Dari: "tata_ruang_riau@yahoogroups.com" <tata_ruang_riau@yahoogroups.com>
Kepada: tata_ruang_riau@yahoogroups.com
Terkirim: Minggu, 10 Juni, 2007 6:40:44
Topik: [tata_ruang_riau] New poll for tata_ruang_riau

Apakah anda Sepakat Bencana Banjir Yang Kita Alami Setiap Tahun merupakan akibat dari Tata Ruang Yang Tidak Terencana

o Setuju
o Tidak Setuju
o Ragu
o Tidak Tahu

Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

Read More......

27 Agustus, 2007

UU Penataan Ruang; Mau Kemana……

UU Penataan Ruang; Mau Kemana……
August 6th, 2007 ·
No Comments

Akhirnya setelah 15 bulan dibahas, Rancangan Undang-Undang Penataan Ruang (RUUPR) diteken dalam Rapat Panitia Khusus DPR RI dengan Menteri Pekerjaan Umum (21/3). Namun, setidaknya ada 4 (empat) hal yang masih menjadi perdebatan panjang, -bahkan oleh para ahli sendiri.
Pertama, kewenangan yang diberikan kepada Departemen Pekerjaan Umum (PU) sebagai penyidik dalam kasus pelanggaran tata ruang. Hal ini akan tidak saja menimbulkan tumpang tindih pelaksanaan di lapangan namun bisa terjadi terjadi ‘ambivalensi’ kewenangan. Kita tahu bahwa PU adalah departemen teknis yang bertugas salah satunya melakukan pembangunnan infrastruktur. Dalam artian PU sebagai operator pembangunan Indonesia. Nah dengan kewenangan yang diisyaratkan RUUPR tersebut maka PU selain sebagai operator juga sebagai regulator sehingga akan terjadi split personality di tubuh PU dalam menegakkan peraturan tata ruang.
Dengan kewenangan barunya, PU dapat saja ‘memutihkan’ berbagai pelanggaran dalam penyalahgunaan peruntukan lahan/kawasan yang ‘dibangunnya sendiri’. Seharusnya RUU menguatkan peran BKTR (Badan Koordinasi Tata Ruang) untuk melakukan peran tersebut, yang saat ini tidak ada kinerjanya yang berarti dengan maraknya pelanggaran dan penyalahgunaan tata ruang. Termasuk juga kemungkinan menguatkan Bapedal dan Bapedalda di daerah-daerah.
Kedua, visi RUUPR tersebut terlalu ‘planocentris’. Dalam artian pendekatan yang dipakai hanya bagaimana ‘memetak-petakkan’ wilayah peruntukan tanpa didasari pada konsep keberlanjutan lingkungan. Tokoh Lingkungan yang juga mantan Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Emil Salim pertama, mengkritik RUU ini karena paradigma yang dipakai adalah dengan pendekatan wilayah bukan pendekatan ekosistem. Sehingga penataan ruang ke depan hanya berorientasi pada pembangunan fisik semata dan tidak memikirkan dampak lingkungan yang ditimbulkan dari pembangunan tersebut, seperti halnya saat ini. Emil Slaim juga mengharapkan RUU ini lebih berpihak kepada lingkungan.
Ketiga, keruangan kawasan lautan dan pesisir, dalam RUU ini masih sangat terkesan land vision. Semua tahu, Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri atas 17.508 buah pulau dan memiliki pantai terpanjang kedua di dunia (kira-kira sepanjang 81 ribu Km2) setelah Kanada dengan luas Zona Ekonomi Eksklusif lautan sebesar 7,.7 juta km2. Fakta tersebut seharusnya menyadarkan kita akan jati diri kita sebagai Negara maritime. Sehingga dalam isu tata ruang lautan dan pesisir dapat diakomodasi dalam RUU dalam kerangka yang lebih dilihat dari sudut pandang continental vision. Hal ini juga untuk menjadi konsideran sebelum RUU Pengembangan Wilayah Lautan Pesisir menjadi agenda pembahasan DPR berikutnya.
Keempat, adalah pendekatan geostrategis. Sering kita lupa, dari ribuan pulau yang kita miliki, terdapat 92 pulau terluar Indonesia, meliputi 141 kabupaten/kotamadya yang berada di 14 propinsi, yang merupakan daerah perbatasan dengan 10 negara tetangga. Sehingga persoalan penanganan dan pengawasan daerah perbatasan menjadi sesuatu yang tidak mudah. Setelah 2 peristiwa penting masing-masing lepasnya bekas propinsi Timor Timur tahun 1999 dan menjadi negara merdeka, dan menangnya pihak Malaysia dalam sidang Mahkamah Internasional di Den Haag tahun 2003 terhadap kepemilikan Pulau Ligitan dan Pulau Sipadan dan kini dengan masih memanasnya blok Ambalat harusnya menyadarkan kita untuk merubah orientasi dan pendekatan daerah perbatasan.
Anggapan di masa lalu, yang lebih mengutamakan pada pendekatan keamanan (security approach) daripada pendekatan kesejahteraan (prosperity approach), telah mengakibatkan wilayah perbatasan ini, baik daratan maupun pulau-pulau terluar, menjadi daerah yang nyaris tidak tersentuh oleh dinamika pembangunan, kurangnya infrastruktur dan pusat-pusat pelayanan pemerintah lainnya yang menyebabkan masyarakatnya menjadi relatif miskin dan tertinggal, sehingga yang melatarbelakangi pula maraknya kegiatan-kegiatan ilegal seperti illegal logging, illegal trading, maupun traficking.
Seyogyanya Departemen Pertahanan fokus pada hal terakhir di atas dalam menyatukan persepsi untuk memberdayakan kawasan perbatasan dan pulau-pulau terdepan Indonesia. Bukan isu-isu lain yang kurang strategis -pendaratan pesawat di jalan umum, ruang latihan bagi tentara-. Upaya penjagaan wilayah perbatasan nasional yang begitu luas tidak semuanya bisa diselesaikan dengan pendekatan militer. Pendekatan geostrategis dengan penataan ruang merupakan pendekatan yang bisa menjaga keutuhan wilayah nasional khususnya daerah perbatasan.
Menurut data Departemen Pertahanan pula, Indonesia mempunyai potensi konflik perbatasan yang mirip Sipadan-Ligitan yang telah usai, (juga saat ini masih memanasnya blok Ambalat) dengan hampir seluruh negara yang berbatasan langsung. Pulau-pulau yang berpotensi itu adalah ; Rondo di Sabang, Berhala dan Nipah di Selat Malaka, Sekatung di Kepulauan Natuna, Marore, Miangas, Beras di Papua, serta Pasir di selatan Nusa Tenggara Timur. Diprediksi, setelah memanasnya konflik Pulau Ambalat adalah Pulau Nipah yang berbatasan dengan Singapura dan Pulau Sekatung di Kepulauan Natuna yang berbatasan dengan Vietnam. Inilah yang harus diterjemahkan departemen pertahanan dalam mengkritisi dan mempersiapkan peraturan perundangan berikutnya. Belum lagi potensi minyak dan gas yang terkandung di kawasan perbatasan ini. Di Natuna, salah satu pulau yang berbatasan dengan Singapura, memiliki 377,2 juta barel cadangan minyak serta menyimpan cadangan gas alam terbesar dengan kisaran 54,2 triliun kaki kubik.
Terakhir perlu kearifan lagi baik oleh pemerintah maupun DPR sebelum RUU Penataan Ruang ini disyahkan, supaya jangan terkesan terburu-buru. Karena banyak permasalahan lingkungan akibat dari ketidak-pekaan kita dalam pembangunan dan perencanaan tata ruang yang segera perlu dibenahi secara mendasar.

Read More......

Ichsanuddin: Cara Berpikir Pemerintah tentang Tata Ruang Kacau

Ekonom Ichsanuddin Noorsy menyatakan pemerintah bukan hanya kacau dalam cara berpikir tata ruang di Indonesia, tapi sekaligus melakukan kesalahan manajemen dalam tata ruang। "Perbaikan tata ruang itu, ujung-ujungnya hanya satu: pemerintah dan DPR memberi keleluasaan pengelolaan tata ruang hanya dalam pengertian komersil," tegas Ichsanuddin usai kegiatan Konvensi Rakyat Indonesia di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Minggu (1/7/2007)। Dengan demikian, menurutnya, pemerintah harus menjadikan tata ruang sebagai prioritas dalam menangani masalah kerusakan lingkungan hidup। Ia juga menyayangkan perilaku pemerintah yang tidak mementingkan kepentingan rakyat atau hak rakyat.
"Seharusnya pemerintah harus bertemu muka dengan rakyat untuk membicarakan masalah makro untuk kepentingan mikro. Karena ini juga termasuk kebutuhan masyarakat bawah," tegasnya.Selama ini, menurut Ichsan, kerja sama pengusaha dan pejabat hanyalah membicarakan masalah perbesaran keuntungan. "Mereka hanya mempertahankan bisnis. Sejak orde baru tidak ada pembenahan pokok mengenai tata ruang, reformasi kepemilikan, reformasi struktural, distribusi, dan produksi, yang harus dibenahi secara cepat," ungkapnya.Hadir dalam acara tersebut Menteri Negara Lingkungan Hidup Rahmat Witoelar, anggota Komisi VII DPR RI dari Partai Keadilan Sejahtera Wahyudin Munawir, serta Gubernur Kalimantan Tengah, Teras Narang. Acara yang diselenggarakan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) ini juga diikuti 1.500 peserta yang terdiri dari berbagai organisasi, seperti Nelayan Aceh, Dewan Adat Aceh, dan Nelayan Rap-Rap Bunaken. (ahm)

Lutfi Dwi P. - ओकेजोने Minggu, 01/07/2007 16:15 WIB

Read More......

DAS Siak Diusulkan Dikelola Lembaga Khusus

DAS Siak Diusulkan Dikelola Lembaga Khusus
14 Mei 2007
Anda pembaca berita ke 60

Kompas - Daerah Aliran Sungai Siak diusulkan dikelola sebuah lembaga atau badan langsung di bawah Pemerintah Provinsi Riau. Usul ini tercantum dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Siak, yang telah diajukan Gubernur Riau kepada DPRD Riau. Prof Adnan Kasry, Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Siak, yang dipercaya menyusun rancangan Perda DAS Siak, Minggu (13/5), menjelaskan, pengelolaan DAS Siak secara terpadu perlu segera diwujudkan. Ini penting mengingat tingkat pencemaran dan kerusakan DAS Siak sudah semakin parah. "Saat ini, masing-masing dinas atau instansi membuat perencanaan sendiri atas DAS Siak sehingga yang terjadi bukan pengelolaan yang baik, tetapi kekacauan. Bila konsep pengelolaan DAS Siak disetujui, pengelolaan DAS Siak akan lebih terpadu," ujar salah satu pakar lingkungan hidup dari Universitas Riau ini. Ia mengusulkan, badan atau lembaga yang mengelola DAS Siak ini dapat berbentuk, seperti Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), yang mempunyai independensi. "Tetapi, badan tetap berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi," katanya. Salah satu tugas lembaga atau badan yang mengelola DAS Siak ini, kata Adnan, menetapkan peruntukan DAS Siak. Peruntukan itu disesuaikan dengan daya dukung kawasan, jumlah dan penyebaran penduduk serta proyeksi pertumbuhan, proyeksi kebutuhan sumber daya air dan lahan, serta pemanfaatan air dan lahan yang ada. Lembaga atau badan tersebut, tambah Adnan, harus mengumumkan kepada masyarakat secara terbuka, tentang rancangan rencana pengelolaan DAS Siak. Ranperda yang diajukan ke DPRD Riau akhir April ini juga mengakomodasi kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan informasi dan manfaat sehubungan dengan pengelolaan DAS Siak, serta memperoleh ganti atas kerugian yang dialami sebagai akibat dari pengelolaan DAS Siak yang tidak sesuai dengan ketentuan. Direktur Badan Kajian Rona Lingkungan F-MIPA Universitas Riau Tengku Ariful Amri menambahkan, pengelolaan Sungai Siak relatif lebih mudah dikerjakan, dibandingkan tiga sungai lain yang melintas di Riau karena seluruh bagian Sungai Siak terletak di Provinsi Riau. Adapun tiga sungai lain, yakni Kampar, Indragiri, dan Rokan, merupakan sungai yang lintas provinsi, karena sebagian masuk wilayah Sumatera Barat dan Jambi. "Yang diperlukan adalah komitmen yang kuat serta didukung dengan pendanaan yang memadai. Riau sudah mempunyai Rencana Tata Ruang dan Wilayah sebagai acuan dan aturan main, tetapi aturan main ini masih belum dipatuhi. Akibatnya, terjadilah pencemaran dan kerusakan di DAS Siak," tuturnya. Ia mengatakan, perlu pembagian yang jelas antara kawasan yang perlu dilindungi dan daerah yang bisa dimanfaatkan. Bila pembagian sudah ditetapkan, perlu diterapkan secara ketat di lapangan. Kerusakan yang terjadi di Sungai Siak menyebabkan hilangnya sejumlah biota air. Kuantitas biota air yang ada di Siak juga merosot. Di samping itu, hampir tiap tahun di DAS Siak dalam beberapa tahun terakhir selalu terjadi banjir. Ini terjadi karena penggundulan hutan di kawasan hulu, pencemaran dan penumpukan sampah di hilir akibat pendangkalan sungai yang terus तेर्जादी

Read More......

Kedaulatan Rakyat Atas Ruang Harus Segera Diwujudkan

Suaka Margasatwa

Balai Raja

Giam Siak Kecil

Bukit Batu

Danau Pulau Besar

Bukit Rimbang Bukit Baling

Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket

 Tasik Tanjung Padang

Tasik Serkap

Tasik Metas

Tasik Belat

 Kerumutan

Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Perbandingan RTRWN Terhadap RTRWP

[RTRWN-RTRWP2.gif]