24 September, 2007

Menyiasati Dampak Pemanasan Global

[Sumber : seputar-indonesia.com | 05/09/07]
http://penataanruang.pu.go.id/BERITA/file/20070905_sindo.htm

PEMANASANglobal sedang menjadi isu sentral di berbagai belahan dunia. Lantas,bagaimana dampaknya terhadap bangunan? Selama bumi masih dalam temperatur 16 Celsius, pemanasan bumi adalah hal yang baik.

Namun, ketika terjadi peningkatan konsentrasi gas rumah kaca yang melebihi batas normal, maka akan membuat penumpukan gas yang terperangkap efek rumah kaca sehingga menekan jumlah radiasi inframerah yang seharusnya lolos ke ruang angkasa. Bumi akan semakin panas. Itulah penyebab terjadinya pemanasan global (global warming) yang belakangan tengah melanda berbagai belahan dunia. ”Peningkatan efek rumah kaca terutama disebabkan oleh pencemaran udara sehingga menyebabkan terjadinya pemanasan global, yaitu peningkatan suhu di permukaan bumi yang mengakibatkan perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut,” ungkap Ir Rana Yusuf Nasir,President Director PT Aircon Pratama.


Namun, selain peningkatan jumlah gas rumah kaca, global warming ini terkait pula dengan kegiatan penebangan pohon di kawasan hutan yang tidak diimbangi dengan penanaman pohon pengganti atau disebut deforestasi. Juga akibat dari pembakaran bahan bakar fosil berupa minyak bumi atau batu bara, serta di bidang pertanian, yaitu penggunaan pupuk kimia. Untuk mencegah pemanasan global,harus dimulai dari hunian sendiri yaitu dengan cara ramah lingkungan. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah pemilik rumah memikirkan dengan matang mengenai pengelolaan dan pengangkutan sampah organik dan anorganik.

Didukung dengan penempatan beberapa titik sumber resapan yang dibuat mengelilingi hunian. ”Bangunan sangat berkontribusi terhadap global warming yang menimbulkan climate change, mulai dari pemakaian air, green house, sampah, dan pemakaian listrik. Karena itu, yang dibutuhkan kini adalah bangunan yang efisien terhadap pemakaian energi dan air, bangunan yang memakai material lokal, bangunan yang ramah lingkungan, dan ramah lingkungan terhadap konstruksi,” papar Rana Yusuf. Bangunan ramah lingkungan tidak banyak berfungsi baik tanpa didukung taman yang menghadirkan suasana alami yang sejuk dan teduh. Sebuah bangunan yang dikelilingi taman akan menyatukan seluruh ruangan dengan lingkungan di sekitarnya.

Selingan aromatik tanaman dan warna-warni tanaman berbunga dan berdaun indah menambah keceriaan dan kehangatan ketika berada di dalamnya. Pohon produktif di jalur hijau di depan, taman depan dan taman belakang memberi kesegaran udara yang dibutuhkan suatu bangunan dan orang yang ada di dalamnya.Tanaman produktif dan apotek hidup yang ditanam di tanah maupun dalam pot-pot tanaman yang artistik tersebar sejak dari area entrance, ruang dalam,hingga ruang servis, menciptakan suasana alami sejak luar hingga ke dalamnya. Penempatan jendela dan skylight di dalam sebuah bangunan akan menjadi sumber cahaya alami.

Penempatan yang bersilang secara vertikal menciptakan aliran hawa secara alami pula.Karena itu untuk penerangan, di siang hari pemilik menggunakan cahaya alami dengan mengandalkan bukaan yang lebar.Didukung dengan kehadiran sebuah void, sirkulasi udara pun akan terasa lancar dan keluar-masuk dengan bebas. (chaerunnisa)



Tidak ada komentar:

Kedaulatan Rakyat Atas Ruang Harus Segera Diwujudkan

Suaka Margasatwa

Balai Raja

Giam Siak Kecil

Bukit Batu

Danau Pulau Besar

Bukit Rimbang Bukit Baling

Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket

 Tasik Tanjung Padang

Tasik Serkap

Tasik Metas

Tasik Belat

 Kerumutan

Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Perbandingan RTRWN Terhadap RTRWP

[RTRWN-RTRWP2.gif]