05 Agustus, 2008






Read More......

19 Juli, 2008

PENCABUTAN/PEMBEKUAN IJIN KONSESI HTI RAPP DAN TANGKAP PARA PEJABAT YANG TERLIBAT ILLEGAL LOGGING DI RIAU

PSIARAN PERS

Kerusakan hutan alam di Indonesia sebagian besar akibat sistem ekonomi dan politik yang korup dan menjadikan sumber daya hutan hanya sebagai komoditas ekonomi dan politik semata. Kebijakan industri kehutanan yang dibangun juga cenderung hanya menguntungkan segelincir pemilik modal yang berkolusi dengan elit politik dan aparat pemerintahan yang korup. Pesatnya pembangunan industri pulp dan kertas yang tidak mempertimbangkan ketersediaan bahan baku dan kelestarian hutan telah mendorong peningkatan laju kerusakan hutan melalui kegiatan konversi hutan alam (natural forest) dan aktivitas pembalakan liat (illegal logging). Bahkan kebijakan pemberian ijin konversi hutan alam untuk pembangunan HTI oleh Departemen Kehutanan tidak lebih merupakan bentuk penghancuran hutan alam oleh negara.

Propinsi Riau sebagai salah satu kawasan hutan alam terluas di Indonesia, saat ini mengalami proses deforestasi yang paling massif. Kehadiran industri pulp dan kertas semakin mempercepat pemusnahan hutan alam di kawasan tersebut. PT. Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP)merupakan salah satu industri pulp & paper terbesar yang melakukan
deforestasi hutan alam di Riau. RAPP (Riaupulp/ Riaufiber) merupakan anak perusahaan APRIL Group (Asia Pacific Resources International Holding Limited) yang memproduksi serat (fiber), bubur kertas (pulp) dan kertas (paper) dan merupakan bagian dari Raja Garuda Mas International (RGMI) milik taipan Sukanto Tanoto (Tan Kaung Ho).

RAPP memiliki areal konsesi seluas 326.340 hektar yang tersebar di 4 (empat) kabupaten yakni Kampar, Palalawan, Siak dan Kuantan Singingi. Selain itu RAPP juga memiliki areal HTI (Hutan Tanaman Industri) Kemitraan seluas 379.213 hektar dan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) seluas 39.786 hektar, sehingga total luas areal mencapai 745.339 hektar.

RAPP merupakan salah satu industri pulp terbesar di dunia dengan kapasitas industri 2 juta ton/tahun dan kebutuhan bahan baku kayu mencapai 9 juta m3/tahun. Sementara, pasokan bahan baku kayu serpih dari hutan tanaman (HTI) hanya mampu memenuhi sekitar 45% dari seluruh kebutuhan bahan baku RAPP.

Dengan kapasitas produksi dan kebutuhan bahan baku kayu yang sangat besar dan keterbatasan bahan baku, RAPP berusaha memenuhi kebutuhan bahan bakunya dari berbagai sumber, termasuk bahan baku dari hasil konversi hutan alam dan penebangan yang merusak hutan (illegal logging). Terbongkarnya kasus illegal logging yang melibatkan RAPP, Gubernur Riau, dan Bupati Palalawan membuktikan bahwa telah terjadi
persekongkolan antara aparat pemerintahan, elit politik dan RAPP untuk menghancurkan hutan alam Riau secara sistematis. Ironisnya, penghancuran hutan alam ini didukung oleh kebijakan konversi hutan alam untuk HTI oleh Departemen Kehutanan.

RAPP dan aparat pemerintahan korup, bukan hanya telah merusak ekosistem hutan alam, tetapi juga telah merampas lahan-lahan milik masyarakat adat atas nama pembangunan. Pers dan media massa sebagai salah satu ujung tombak pemberantasan illegal logging yang seharusnya didukung dan dilindungi, dalam kenyataanya tengah mengalami pengekangan oleh aparat penegak hukum yang bersekongkol dengan perusahaan atas alasan pencemaran nama baik.

Atas dasar fakta-fakta tersebut di atas, ILLEGAL LOGGING WATCH (ILW) mengajak kepada segenap komponen masyarakat, aparat penegak hukum, organisasi masyarakat sipil, dan berbagai stakeholder yang memiliki komitmen penyelamatan hutan alam di Indonesia untuk :
1. Melakukan pemberantasan illegal logging secara TEGAS dan TANPA TEBANG PILIH terhadap semua pelaku illegal logging
2. Mendukung KPK dan aparat kepolisian untuk menangkap dan mengadili Mantan Gubernur Riau, Rusli Zainal dan para Bupati yang terlibat kasus illegal logging di Riau.
3. Menuntut kepada departemen terkait untuk mencabut izin usaha dan izin konsesi PT. Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP) yang terbukti melakukan kegiatan illegal logging di Riau.
4. Menuntut kepada Komisi Yudisial untuk memeriksa hakim dan jaksa yang diduga menerima suap/gratifikasi dari RAPP.
5. Mengajak masyarakat untuk memantau praktek-praktek illegal logging serta melaporkan kepada aparat penegak hukum, media massa dan pihak terkait lainnya

BERSIHKAN HUTAN KITA DARI PRAKTEK ILLEGAL LOGGING !!!
Jakarta, 8 Juli 2008
ILLEGAL LOGGING WATCH

Koordinator


Diddy Kurniawan
HP. 0817135156

Read More......

07 Juli, 2008

Attachment: pekanbaru.pdf


Attachment: pekanbaru.pdf


Read More......

06 Juli, 2008


Animasi


Read More......

17 Mei, 2008

Rencana Tata Ruang Pulau Sumatra







Read More......

08 Mei, 2008

Posisi Kasus PT Lestari Unggul Makmur

Peta 1 Map Army Service 1955
Peta ini dibuat oleh Map Army Service (SNTT), Corps of engineers, U.S.Army, di Washington D.C. tahun 1955 dengan skala 1:250.000.




Pada Wilayah pantai sudah ada pemukiman masyarakat, perkebunan diantaranya perkebunan sagu
Disini dapat kita lihat pada tahun 1955 sudah diketahui bahwa bagian tengah dari pulau tebing tinggi didominai oleh hutan rawa gambut
...................... ...................................... ............................................. ...................................... ............... ................................................ ............................... ................................................... ......... .............................................................. ................................ ................... ................................................................... ................................................................
Peta 2 Bakosurtanal 1976
Peta ini dibuat oleh Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (bakosurtanal) tahun 1976 dengan skala 1:50.000
Informasi yang terdapat dalam peta ini adalah pada kawasan pesisir dari pulau ini sudah ada pemukiman masyarakat, bahkan perkebunan masyarakat sudah sampai ketengah pulau,
Vegetasi yang ada didominasi oleh hutan rawa gambut.
.................................... ......................... .......................................... ........................ ................................................. ........................... ..................................................................... .................................... ..................................... ................................ ..................... ................... ................................ ...................... ........................ ............ ............. .............. ....................... ......................... .......................... .................... ......................................................... ................... ....................... .......................... ................... ...................... .................. .................... ....................................... .............................................................. ................................. ..................................
Peta 3 Tata Guna Hutan Kesepakatan (1986)
Pada Tahun mentri kehutanan mengeluarkan Kepmen 137 tahun 1986 tentang Tata guna hutan Kesepakatan (TGHK)

Pada peta TGHK ini hampir seluruh wilayah daratan dikategorikan sebagai hutan. Diantaranya Hutan Produksi (HP), Hutan Produksi terbatas (HPT), Hutan Produksi Konversi (HPK)
Dari Peta ini dapat dilihat bahwa Pulau Tebing Tinggi didominasi oleh Hutan Produksi Terbatas (HPT) dan Hutan Produksi Konversi (HPK)
...............................................

................... ....................... .............. ............................ ............................ ................................. ...................... ........................... ........................... ....................... ............................. .............................................. ......................................................................... ......................................................................... ............................................................. ....................

peta 4 Perda No 10 tahun 1994
Pada Tahun 1994 Dewan perwakilan rakyat Daerah Riau Mengeluarkan Perda No 10 tahun 1994 tentang Rencana Tata Ruang Provinsi Riau 1994 sampai 2009


Peta ini dipakai sebagai Acuan oleh instansi tehnis (dinas/badan) dalam menjakankan program kerjanya


Dari peta tematik ini Pulau Tebing Tinggi direncanakan digunakan sebagai kawasan Kehutanan, kawasan perkebunan dan kawasan lindung

....................................................... ....................................... .................................... ............................................. ................................................................... ...................................................... .............................................................. ..............
.................................. ............................... ............................... ............................ ............................






Peta 5 RTRWK Bengkalis (2002)
Pada Tahun 2002 DPRD Kabupaten Bengkalis mengeluarkan Perda No...tahun 2002 tentang Rencana Tata Ruang Kabupaten Bengkalis


.......................... ................................ ..................... ........................... ........................ ...................... ............................ ............................................. .......................... ............................... ..................................... ............................ .............................. ............................. .............................................. .................................. .................................................. .................................................. ............................................... ...................... ......................................... ....................................................................... ............................. .......................... .......................................................

peta 6 Hasil Riset Wetland International
Pada Tahun 2002
.............................. ............................. ........................ ................. .............................. ........................ ............................ ............................. ....................................... ............................. ........................... ......................................... ............................. ........................... .......................... .................................... .......................... ................................ ............................ .......................... ............................. ......................... ............................... ............................. ......................... .................................. .......................... ...................... .............................. ............................ ....................... ........................ ............................. ............................. .......................... ....................................... ............................................. ................................... ................................. .......................................... ............................................ ................................ ..................................

Peta 7 Citra Landsat Composite 2005
......................... ................................ ........................ .................................. ....................... .................... ..................... ................................ ........................ ............................... ............................. ..................... .............................................. ............................ ........................... ........................ ....................... ........................... .......................... ........................ .................................... ........................ ..................... .......................... ...................... ......................... .................................... ............................. .................. ......................... ............................. ....................... ................................. ........................ ....................... ................................ ............................. ................... ......................... .............................. ...................... ................................. ........................................................... .................................. ........................ ........................................ ............................... .................................. ............................... ...............................................

Peta 8 Draft RTRWP 2001-2015
................................... .............................. .................... .............................................. ............................... ........................................ ................................... ............................... ......................... .................... ............................ ....................... ..................... ............................ ...................... .................... ...................................... ......................... .................... ............................. ......................... ..................... ................................. ........................... ................... ................................ ............................. ........................... ........................... ..................... .................................... .................... ................... ...................................... ........................... .................. ..................... ..................... ...................... ...................... .......................................... ..................................... .......................................... ......................................

(Maaf, tulisan ini belum selesai, barangkali ada kawan kawan yang mau membantu data, terutama yang mengerti kasus dan persoalan yang dihadapi oleh masyarakat yang ada di 6 desa di kecamatan tebing tinggi)

Dari beberapa media massa saya melihat bahwa ini adalah konspirasi besar antara penguasa dan pengusaha untuk menyingkirkan hak hak dasar rakyat sebagai pemilik syah dari negeri ini.

Mari kita bersama mencerdaskan rakyat dan mewujudkan kedaulatan rakyat terhadap sumberdaya alam.


Posisi Kasus PT Lestari Unggul Makmur

Link Berita:
http://www.bangrusli.net/index.php?option=com_content&task=view&id=1903&Itemid=2
http://www.bangrusli.net/index.php?option=com_content&task=view&id=1745
Portal Situs Berita Riau
Visi Bersama Pulp dan Kertas Indonesia: Ketika Daerah Penghasil ...
JIKALAHARI - Lokasi HTI Serobot Lahan Masyarakat
Riau Today
Riau Pos dotCom - HPHTI di Tengah Banjir
Riau Pos dotCom - Kebun Sagu Rakyat Masuk HTI
PILI - NGO Movement
Kementerian Negara Lingkungan Hidup
Akmalannas
lingkungan : Message: Ditolak Forum Kades

Dari beberapa berita yang didapat dari media didapat beberapa informasi awal:
Statemen politik
Gubernur Riau HM Rusli Zainal SE MP, menginstuksikan agar izin HTI tersebut ditinjau ulang. ‘’Sudah ada surat dari Gubri yang kita teruskan ke Pemkab dan Dinas Kehutanan Bengkalis agar meninjau ulang izin,’’ sebut Kadishut Riau Zulkifli Yusuf, ditemui Selasa (1/4). “
Anggota Komisi B DPRD Riau Drs Azwir Alimuddin MM “DPRD Riau siap memberikan dukungan dan bantuan kepada masyarakat yang merasa dirugikan dengan ulah perusahaan tersebut”
Menurut Dinas Kehutan Propinsi Riau, pembukaan HTI tersebut untuk kelangsungan pasokan kayu akasia perusahaan kertas Riaupulp yang belakangan kian menipis
"Masyarakat yang punya surat bisa enklaf (ganti rugi) dan masyarakat yang tidak punya surat tapi lahan tersebut punya bukti sudah digarap juga bisa di inklaf, (Dishut Riau)
Menurut ketua DPRD Riau “Ada baiknya izin itu ditinjau ulang”
Gubri meminta dishut Bengkalis mendata ulang HTI. Bila masuk dalam kawasan perkebunan masyarakat, supaya kawasan di-inclave. “

Data dan fakta
Masyarakat
Menurut Kepala Desa Nipah Sendanu, Natiran, Di desa ini terdapat 500 lebih KK yang menggantungkan hidup dari hasil perkebunan, mayoritas kebun sagu.
Di kawasan ini hutannya tinggal seribuan hektare saja, pemerintah tidak serius turun ke lapangan saat mengukur lahan, HPHTI itu dikeluarkan sebelum amdalnya keluar.
Hutan yang ada dibabat dan diambil kayunya. Kemudian lahannya ditinggal, kebakaran lahan jika musim kemarau, dan banjirlah jika musim hujan karena tak ada lagi kawasan penyerap air.
Masyarakat yang kebunnya ‘’digasak’’ oleh HPHTI akan kehilangan mata pencaharian sehingga terancam menjadi masyarakat miskin.
Jangan sampai izin yang dikeluarkan dengan alasan ‘’pembangunan dan ekonomi’’ malah sebaliknya mendatangkan kesengsaraan bagi masyarakat.
Desa Nipah Sendanu saja tidak kurang 500-an hektar lahan perkebunan sagu milik warga dipetakan pihak perusahaan sebagai lokasi yang masuk dalam izin HTI
Produksi sagu basah 500 ton per bulan
Dari 10.390 hektar izin HPHTI, kawasan hutan diperkirakan hanya 30 persen dan 70 persen lagi, saat ini adalah lahan masyarakat
Di desa Nipah Sendanu terdapat sekitar 11 kilang pengolah tual sagu menjadi sagu basah
Dikhawatirkan berdampak terhadap matinya pohon sagu dan kelapa warga akibat pembuatan kanal-kanal
Perizinan
Menurut Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Riau Zulkifli Yusuf “izin dikeluarkan belum pernah dilakukan survei ke lokasi sebelumnya”
SK Menhut tersebut tidak menjelaskan secara rinci batas-batas atau wilayah yang mendapat HTI
Pada tahun 2002 PT Perkasa Baru mendapat rekomendasi HTI oleh Menhut RI dan rekomendasi IPK Bupati Bengkalis untuk penanaman akasia, tahun 2003 perusahaan menghentikan kegiatan karena menyerobot lahan perkebunan sagu milik warga., tahun 2007 diduga anak perusahaan Arara Abadi mendapatkan kembali izin pengelolaan HTI
Tidak pernah ada surat pemberitahuan dari pemerintah kepada masyarakat rencana pembangunan HTI
Surat rekomendasi dari Gubernur Riau dengan SK:552.2/Dishut/28.21 tanggal 9 Agustus 2006
Rekomendasi dari Wakil Bupati Bengkalis dengan SK: 522.1/PUK/270 tanggal 11 Mei 2006
Amdal dari Gubri SK no: Kpts.553.a/XI/2006 tanggal 20 November 2006.
SK menhut: Nomor 217/Menhut-II/2007 Tanggal 31 Mei
Hutan Produksi yang di Konversi (HPK) seluas 3.930 hektar dan Hutan Produksi Tetap seluas 6.460 hektar.

Pokok Permasalahan
Konflik Tenurial:
Ada konflik dengan masyarakat :Desa Nipah Sendanu, Desa Sungai Tohor, Desa Lukun, Desa Tanjung Gadai, Desa Kepau Baru , Desa Teluk Buntal
Dasar hukum: UU Pokok agraria 1960, PP Posisi konflik: Adanya tumpang tindih lahan antara PT Lestari Ungul makmur dengan masyarakat 6 desa








Read More......

30 April, 2008

Read More......

22 Februari, 2008

Kebakaran Hutan dan lahan tanggal 22 februari 2008

Photobucket
Jumlah hotspot total pada hari ini untuk seluruh indonesia ada 35 titik, 29 hotspot dantaranya ada di provinsi riau, 15 berada di konsesi HTI. Sedangkan distribusi hotspot berdasarkan administrasi adalah Bengkalis 19, Dumai 5, Pelalawan 1, Rokan Hilir 4. Distribusi hotspot pada kawasan bergambut adalah 1 titik pada kedalaman gambut 0,5-1 meter 1, 3 titik pada gambut kedalaman 1-2 meter, 8 titik pada gambut dengan kedalaman 2-4 meter dan 16 titik pada gambut dengan kedalaman lebih dari 4 meter, sedangkan pada tanah mineral hanya 1 titik. Hotspot yang ada pada konsesi HTI terdeteksi sebanyak 15 titik diantaranya: 3 titik pada konsesi PT Bukit Batu Hutani Alam, 1 titik pada konsesi PT RAPP, 6 titik pada konsesi PT Sakato Pratama Makmur, 5 titik pada konsesi PT Tiara Cahaya Delima..
Sebaran Hotspot 22 Februari 2008
Sebaran Hotspot 22 Februari 2008
Sebaran Hotspot 22 Februari 2008
Sebaran Hotspot Tanggal 22 Februari 2008

Read More......

21 Februari, 2008

Kebakaran Hutan dan lahan tanggal 21 februari 2008

Berdasarkan pantauan Satelit, di indonesia terdeteksi sebanyak 429 hotspot yang tersebar, pada tanggal 20 februari 2008 dari jam 15.15 waktu UTC sampai tanggal 21 jam 6.45 waktu UTC. Data diterima pada tanggal 21 jam 10 waktu UTC atau jam 17.45 WIB.

Secara administrasi distribusi hotspot pada masing2 kabupaten/ kota adalah: Bengkalis 106, Dumai 29,Inhil 139, Inhu 2, Kuansing 1, Pelalawan 93, Rohil 16, Rohul 1, Siak 25

Sedangkan hotspot yang berada pada kawasan bergambut adalah: pada kedalaman 0,5-1m 9 buah, 1-2meter sebanyak 181 buah, 2-4meter sebanyak 91 buah, kurang dari 0,5m 1 buah, sedangkan pada gambut dengan kedalaman lebih dari 4 meter sebanyak 116 buah hotspot.
Photobucket
Sedangkan distribusi hotspot pada kawasan Hutan tanaman industri adalah: CV Geosilva Prima 3 buah, PT Arara Abadi 3 buah, PT Bukit Batu Hutani Alam 11 buah, PT Inhutani IV 4 buah, PT Liwa Perdana Mandiri 1 buah, PT National Timber 3 buah, PT Perkasa Baru 1 buah, PT Petra Siak Makmur 5 buah, PT RAPP 5 buah, PT Rimba Rokan Lestari 22 buah, PT Rokan Permai Timber 3 buah, PT Sakato Pratama makmur 4 buah, PT Satria Perkasa Agung 21 buah, PT Selaras Abadi Utama 1 buah, PT Surya Dumai Agrindo 17, PT Tiara Cahaya Delima 8 buah.

Read More......

Kebakaran Hutan dan lahan tanggal 20 februari 2008

Dari 40 hotspot di indonesia yang terdeteksi pada hari ini 38 diantaranya berada di provinsi Riau.
satelit mendeteksi dari jam 16:10 tanggal 19 waktu UTC sampai tanggal 20 jam 1 15.data diterima jam 10:17:15 atau jam 17:19 WIB tanggal 20 februari 2008





Read More......

19 Februari, 2008

Kebakaran di lahan Gambut

hotspot 17-18 Feb 08

Berdasarkan data dari satelit modis terdapat 14 buah hotspot yang ada di provinsi riau. Keseluruhan hotspot ini berada pada kawasan bergambut. Dua buah hotspot berada pada gambut dangkal dengan kedalaman kurang dari 0,5 meter, 8 hotspot berada pada gambut kedalaman 1 sampai 2 meter, 1 hotspot berada pada gambut dengan kedalaman 2 sampai 4 meter, sedangkan 3 hotspot lainnya berada pada kawasan gambut dalam lebih dari 4 meter.



Secara Administrasi hotspot tersebar di 3 kabupaten, 9 buah terdapat di kotamadya dumai, 3 di kabupaten Bengkalis dan 2 di kabupaten Indragiri Hilir.

Dari 14 hotspot yang terdeteksi, 12 diantaranya berada dalam konsesi perusahaan baik HTI maupun perkebunan, dengan distribusi 6 dalam konsesi HTI dan 6 dalam konsesi perkebunan.

Hotspot yang terdapat di kotamadya dumai berada pada konsesi perusahaan PT Budi Daksa Dwi Kusuma (perkebunan) sebanyak 2 hotspot , CV Geosilva prima (perkebunan) 2 hotspot, PT. Surya Dumai Agrindo (perkebunan) 1 hotspot, PT. Surya Dumai Agrindo (HTI) 1 hotspot.

Di kabupaten Bengkalis hotspot terdapat di PT Budi Daksa Dwi Kusuma (Perkebunan) sebanyak 1 hotspot dan PT Sakato Pratama Makmur (HTI) yang berada pada kawasan gambut dalam (lebih dari 4 meter) sebanyak 2 hotspot.

Sedangkan hotspot lainnya terdapat di Kabupaten indragiri hilir yang berada pada konsesi perkebunan PT Bumi Reksa Nusa Sejati sebanyak 2 hotspot


Read More......

07 Februari, 2008

Kedaulatan Rakyat Atas Ruang Harus Segera Diwujudkan

Suaka Margasatwa

Balai Raja

Giam Siak Kecil

Bukit Batu

Danau Pulau Besar

Bukit Rimbang Bukit Baling

Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket

 Tasik Tanjung Padang

Tasik Serkap

Tasik Metas

Tasik Belat

 Kerumutan

Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Perbandingan RTRWN Terhadap RTRWP

[RTRWN-RTRWP2.gif]